Senin, 11 Maret 2013

makalah fisika tentang manfaat polrisasi cahaya pda bidang industri perikanan





Manfaat Polarisasi Cahaya Dalam Bidang Perikanan



OLEH ;

IKSAN AKBAR HAMID
XII.IA.1
2758



KATA PENGANTAR

            Puji dan syukur kita panjatkan atas khadirat ALLAH SWT yang telah melimpahkan segala rahmat dan hidayahnya sehingga saya bisa menyelesaikan makalah ini dengan cepat
            Tak lupa pula kita kirimkan salawat dan taslim atas junjungan kita Nabiullah Muhammad SAW yang telah membawa kita dari alam gelap ke alam terang benerang sehinggah kita bisa seperti sekarang ini
            Dalam makalah ini saya membahas tentang cara penangkapan ikan mengnakan lampu atau gekombang cahaya yang saya rangkum dari berbagai sumber mulai dari buku sampai internet
            Apabila dalam makalah ini ada kekurangan mohan di berikan saran maupun koreksi agar pembuatan akalah selanjutanyalebih baik
             Terimah kasih atas pembacaan nya terhadap makalah ini


































penulis





Iksan Akbar Hamid
Daftar Isi


Sampul  ............................................................................................................................ 1

Kata Pengatar..................................................................................................................  

Daftar Isi ..........................................................................................................................  3

BAB  I  Pendahuluan

Ø  Latar belakang.....................................................................................................   4

BAB II Isi

Ø  Sejarah Perikanan Light Fishing di Indonesia .....................................................   5

Ø  Prinsip Dasar Perikanan Light Fishing ................................................................   5

Ø  Sumber Cahaya sebagaia Alat Bantu Penangkapan .........................................    8

Ø  Persyaratan Daerah Penangkapan Ikan Buatan dengan Alat bantu Cahaya....     10

BAB III Penutup

Ø  Kesimpulan .......................................................................................................    13

Ø  Saran .................................................................................................................   13

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................   14




















BAB I 

PENDAHULUAN


Latar belakang

Indonesia memiliki wilayah perairan yang luas, yaitu sekitar 3,1 juta km² wilayah perairan territorial dan 2,7 juta km² wilayah perairan zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia. Wilayah Perairan Indonesia memiliki potensi sumberdaya ikan yang sangat besar, diperkirakan sebesar 6,41 juta ton per tahun. Potensi tersebut terdiri atas ikan pelagis besar 1,17 juta ton, pelagis kecil 3,61 juta ton, ikan demersal 1,37 juta ton, ikan karang 145,25 ribu ton, udang penaeid 94,80 ribu ton, lobster 4,80 ribu ton dan cumi-cumi 28,25 ribu ton. Jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) adalah 80 % dan potensi lestari atau sekitar 5,12 juta ton per tahun (PRPT,2001)
            Pemanfaatan sumberdaya perikanan dari waktu ke waktu terus mengalami peningkatan, mengikuti permintaan yang cenderung terus bertambah, baik jumlah maupun jenisnya. Meningkatnya upaya sumberdaya perikanan mendorong berkembangnya teknik dan taktik penangkapan (fishing technique and fishing tactics) untuk dapat memproduksi secara lebih efektif dan efisien.
            Berhasil tidaknya suatu alat tangkap dalam operasi penangkapan sangatlah tergantung pada bagaimana mendapatkan daerah penangkapan yang baik, potensi perikanan yang ada dan bagaimana operasi penangkapan dilakukan. Beberapa cara dapat dilakukan dalam upaya optimalisasi hasil tangkapan diantaranya dengan menggunakan alat bantu penangkapan. Macam-macam alat bantu penangkapan yang umum digunakan dalam operasi penangkapan ikan di Indonesia diantaranya dengan menggunakan rumpon (FAD) dan cahaya lampu (Light Fishing). 
            Secara alami tanda-tanda fisik daerah penangkapan ikan (Fishing ground) berdasarkan pengalaman nelayan, yang catchable area diantaranya ditandai oleh :Warna perairan lebih gelap dibandingkan perairan sekitarnya ; Ada banyak burung beterbangan dan menukik-nukik ke permukaan air ; Banyak buih di permukaan air ; dan Umumnya jenis ikan ini bergerombol di sekitar batang-batang kayu yang hanyut di perairan atau bersama dengan ikan yang berukuran besar seperti paus. Dengan adanya rumpon dan penggunaan cahaya lampu disuatu perairan maka daerah penangkapan ikan dapat dibentuk, sehingga nelayan dan unit kapal penangkap ikan tidak tergantung lagi dengan  tanda-tanda fisik daerah penangkapan ikan yang bergantung pada kondisi lingkungan alami perairan. Oleh karena itu dengan penggunaan rumpon (FAD) dan light fishing dapat dikatakan sebagai pembentuk daerah penangkapan ikan buatan (Artificial fishing ground)


BAB II

A.   Sejarah Perikanan Light Fishing di Indonesia

     Beberapa alat tangkap dalam pengoperasiannya menggunakan bahan dan alat tertentu untuk memberikan rangsangan guna menarik perhatian ikan. Salah satu alat yang digunakan untuk memberikan rangsangan pada ikan adalah cahaya. Cahaya digunakan untuk menarik perhatian ikan-ikan yang bersifat fototaksis positif dan akan direspons dengan berkumpulnya ikan pada sumber cahaya atau catchable area tertentu untuk kemudian ditangkap dengan menggunakan jaring maupun alat pancing lainnya. Penangkapan ikan dengan memanfaatkan cahaya sebagai alat bantu umumnya disebut dengan light fishing.
            Menurut Brant (1984) light fishing atau penangkapan ikan dengan cahaya adalah suatu bentuk dari umpan yang berhubungan dengan mata (optical bait) yang digunakan untuk menarik dan untuk mengumpulkan ikan. Light fishing oleh Brant (1984) diklasifikasikan ke dalam kelompok attracting concentrating and fringhting fish, karena dalam hal ini cahaya digunakan untuk mengumpulkan (concentrating) ikan pada suatu daerah tertentu sehingga mudah untuk dilakukan operasi penangkapan.  

Pada awalnya penggunaan cahaya (lampu) untuk penangkapan ikan di Indonesia belum diketahui secara pasti siapa yang memperkenalkannya. Namun yang jelas sekitar tahun 1950an di pusat-pusat perikanan Indonesia Timur, dimana usaha penangkapan cakalang dengan pole and line marak dilakukan, penggunaan cahaya (lampu) untuk penangkapan ikan telah dikenal secara luas.  Penggunaan cahaya listrik dalam skala industri penangkapan ikan pertama kali dilakukan di Jepang pada tahun 1900 untuk menarik perhatian berbagai jenis ikan, kemudian berkembang dengan pesat setelah Perang Dunia II. Di Norwegia penggunaan lampu berkembang sejak tahun 1930 dan di Uni Soviet baru mulai digunakan pada tahun 1948 (Nikonorov, 1975)

B.   Prinsip Dasar Perikanan Light Fishing
Ayodhyoa (1981) menyebutkan bahwa peristiwa tertariknya ikan di bawah cahaya dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu:
 1. Peristiwa langsung, yaitu ikan tertarik oleh cahaya lalu berkumpul. Ini tentu berhubungan langsung dengan peristiwa fototaksis, seperti pada jenis-jenis sardinella,kembung dan layang.

2. Peristiwa tidak langsung,
yaitu karena ada cahaya maka plankton, ikan-ikan kecil dan lain-lain sebagainya berkumpul, lalu ikan yang dimaksud datang berkumpul dengan tujuan mencari makan (feeding). Beberapa jenis ikan yang termasuk dalam kategori ini seperti ikan tenggiri, selar dan lain-lain
  Selain dua kelompok diatas terdapat ikan yang tertarik pada cahaya sebagai hasil dari reflex defensive ikan terhadap predator. Hal ini terjadi berkaitan dengan pembentukan schoollng dan kemampuan penglihatan pada ikan. Ikan pada umumnya akan membentuk schooling pada saat terang dan menyebar saat gelap. Dalam keadaan tersebar ikan akan lebih mudah dimangsa predator dibandingkan saat berkelompok. Adanya pengaruh cahaya buatan pada malam hari akan menarik ikan ke daerah iluminasi, sehingga memungkinkan mereka membentuk schooling dan lebih aman dan incãran predator. Ikan yang tergolong fototaksis positif akan memberikan respon dengan mendekati sumber cahaya, sedangkan ikan yang bersifat fototaksis negatif akan bergerak menjauh.
Persoalan-persoalan yang terkait dengan aktifitas light fishing antara lain :
A.    Persoalan-persoalan fisika
1. Cahaya : kuat cahaya (light intensity.), warna cahaya (light colour, merambatnya                  cahaya ke dalam air laut, pengaturan cahaya, dan lain-lain sebagainya.
2.  Air laut gelombang, kekeruhan (turbidity), kecerahan (transparancy), arus,dll.
3. Hubungan cahaya dengan air laut : refraction, penyerapan (absorption).    penyebaran (scattering), pemantulan, extinction dan lain-lain sebagainya.
B.     Persoalan-persoalan biologi
 1. Jenis cahaya yang disenangi ikan : berapa besar atau volume rangsangan   (stimuli) yang harus diberikan, supaya ikan terkumpul dan tidak berusaha untuk melarikan diri dalam suatu jangka waktu tertentu. Tidaklah dikehendaki, sehubungan dengan berjalannya waktu, pengaruh rangsangan ini akan lenyap, karena  ikan menjadi terbiasa (accustomed).
2. Kemampuan daya tarik (attracting intensity) dari cahaya yang dipergunakan haruslah sedemikian rupa sehingga dapat mengalahkan (minimum meng-eliminir) pengaruh intimidasi dari beradanya jaring, kapal, suara mesin dan lain-lain.
3. Berbeda spesies, besar, umur, suasana sekeliling (environment) akan berbeda pula cahaya (intensity, colour, waktu) yang disenangi; dan faktor suasana sekeliling (environmental condition factor) yang berubah-ubah (gelombang, arus, suhu, salinitas, sinar bulan) akan sangat mempengaruhi.
            4. Bersamaan dengan spesies ikan yang menjadi tujuan penangkapan akan berkumpul juga jenis lain yang tak diinginkan (ikan kecil, larvae), sedang kita menghendaki catch yang selektif. Ada tidaknya pengaruh cahaya terhadap spawning season, over fishing, resources,dll.
Agar cahaya dalam kegiatan light fishing dapat memberikan daya guna yang maksimal, diperlukan syarat-syarat antara lain sebagai berikut: (1) Mampu mengumpulkan ikan-ikan yang berada pada jarak yang jauh (horizontal maupun vertikal)     
(2) Ikan-ikan tersebut hendaklah berkumpul ke sekitar sumber cahaya, di mana mungkin akan tertangkap (catchable area).(3) Setelah ikan berkumpul, hendaklah ikan-ikan tersebut tetap senang berada di sana pada suatu jangka waktu tertentu (minimum sampai saat alat tangkap mulai beroperasi atau diangkat). (4) Sekali ikan berkumpul  disekitar sumber cahaya hendaklah ikan-ikan tersebut jangan melarikan diri ataupun menyebarkan diri (escape, disperse 
Faktor yang cukup krusial dalam kegiatan light fishing adalah kekuatan dari cahaya lampu yang digunakan, dimana keberadaan cahaya lampu sendiri yang masuk atau menembus perairan akan dipengaruhi kondisi cuaca saat penangkapan (gelap atau terang). Selanjutnya Verheyen (1959) mengemukakan bahwa mekanisme tertariknya ikan pada cahaya belum diketahui dengan jelas, namun diduga berkumpulnya ikan-ikan disebabkan oleh keinginan mencari intensitas cahaya yang sesuai.
Terkait dengan persoalan-persoalan tersebut, maka perlu kajian-kajian mendalam, antara lain:
   1. Kajian tentang cahaya lampu dalam kegiatan light fishing sebagai suatu sumber 
       cahaya   (light resources).
2. Kajian tentang pemantulan, penyerapan, refraction, pemadaman, dan lain-lain peristiwa     fisika dari cahaya yang dihasilkan oleh fishing lamp yang mengenai permukaan air atau air.
3. Hubungan yang ada antara jumlah terang yang terjadi dalam perairan (light intensity, brightness, lux) akibat penyinaran lampu dalam kegiatan penangkapan dan ikan-ikan yang berkumpul. Ikan-ikan ini hendaklah berada dalam keadaan alamiahnya dan hubungan tersebut hendaklah dapat diungkapkan dengan suatu satuan (unit) (besar attracting intensity, besar intimidation effect, besar stimulus, dan lain-lain sebagainya).
4. Pola pergerakan ikan terhadap cahaya dalam aktivitas light fishing, serta motivasi ikan berada disekitar cahaya tersebut.

C.    Sumber Cahaya sebagaia Alat Bantu Penangkapan
Yami (1988)   mengemukakan bahwa perikanan dengan cahaya sudah dilakukan pada banyak cara yang berbeda dan berbagai teknik yang dapat dipakai. Pilihan metode, tentunya tergantung pada besarnya faktor pengembangan setiap tingkat teknologi pada suatu tempat dan pengembangan investasi pada peralatan dan sebagainya. Ada berbagai laporan tentang penangkapan ikan dengan cahaya pada zaman dahulu dan digunakan sebagai informasi bagaimana proses perkembangannya. Seperti halnya di Jepang, dimana penggunaan lampu untuk menangkap ikan sudah dilakukan sejak tahun 1990-an (Nomura dan Yamazaki, 1977).
Adapun di beberapa negara lain, misalnya Norwegia, cahaya sudah digunakan sejak tahun 1885, tetapi untuk perikanan komersial baru digunakan sejak tahun 1930, di Filipina lampu tekan kerosene yang berkekuatan 150-500 candela sudah diperkenalkan pada tahun 1924 dan lampu generator listrik (8-16 kW) dipakai pada pertengahan tahun 1950-an, di Mediterania operator penangkapan ikan bangsa Yunani memperkenalkan jenis alat tangkap purse seine dengan cahaya pada tahun 1954 dan di beberapa negara Pantai Afrika Barat penggunaan cahaya sudah dilakukan sejak tahun 1963 (Yami, 1987). Sedangkan Soviet telah melakukan penyelidikan penangkapan ikan dengan cahaya dimulai di Atlantik (1957) dengan suatu ekspedisi yang dipimpin oleh kapal trawl Kazan, dan di dalam ekspedisi tersebut diketahui adanya reaksi yang positif dari ikan terhadap cahaya yang diamati di Pantai Atlantik Afrika dengan hasil tangkapan yang pertama adalah Jenis Ikan Sardinella
Kini semakin banyak masyarakat yang menggunakan lampu listrik dengan intensitas yang tinggi dalam upaya penangkapan. Lampu listrik selain lebih efektif juga memiliki lebih banyak keunggulan dibandingkan lampu lainnya. Lampu listik dapat ditempatkan pada berbagai posisi di atas kapal maupun di perairan, memiliki daya iluminasi yang tetap dan tidak terganggu oleh keadaan lingkungan seperti angin atau hujan. Dalam perkembangannya beberapa sumber cahaya yang digunakan sebagal alat bantu penangkapan di Indonesia antara lain:
1.      Obor
           
Obor dibuat dari bambu yang kemudian diisi dengan minyak tanah dan diberi sumbu pada bagian ujung atasnya. Pada waktu operasi penangkapanq obor ditempatkan pada sisi perahu sedemikian rupa sehingga pancaran cahayanya dapat menerangi permukaan air. Penggunaan alat ini memiliki beberapa kelemahan yaitu cahayanya mudah berubah oleh tiupan angin dan bila turun hujan alat ini tidak dapat digunakan. Dahulu alat ini banyak digunakan untuk penangkapan di Selat Bali. namun sekarang penggunaannya sulit ditemukan lagi.                                                                                                                                                      
2.      Lampu.Petromaks     
          
Lampu petromaks umumnya memiliki kekuatan cahaya 200 lilin atau sekitar 200 watt. Terdapat dua jenis lampu yang digunakan oleh nelayan yaitu lampu petromaks dengan bola gelas yang berada pada bagian bawah dan tabung lampu yang berada di atas, sedangkan yang satu lagi adalah petromaks dengan tabung minyak pada bagian bawah dan lampu berupa kaos lampu pada bagian atas. Di daerah Indonesia bagian timur penggunaan petromaks jenis kedua biasa dilakukan untuk melakukan penangkapan ikan di pinggiran pantai dengan cara menombak. Spesifikasi cahaya lampu petromaks umumnya dipengaruhi oleh cahaya bulan. Oleh karena itu, biasanya lampu petromaks tidak efisien jika digunakan pada saat terang bulan (purnama). Keadaan ini disebabkan karena pada kondisi demikian ikan-ikan akan cenderung menyebar di dalam kolom air dan tidak naik ke atas permukaan air. Pada saat terang bulan umumnya nelayan-nelayan yang menggunakan atraktor lampu sebagai alat penarik ikan, tidak melakukan operasi penangkapan ikan (Gunarso, 1985).
3.      Lampu Listrik
                        Meskipun pemakaian lampu yang bersumber dari tenaga listrik ini lebih mudah, efektif dan efisien, sebab penempatannya dapat diatur sesuai dengan keinginan, namun penggunaan lampu listrik bagi nelayan kecil di Indonesia masih sangat terbatas. Hal ini karena dibutuhkan biaya yang cukup besar dalam pemakaiannya. Di beberapa negara seperti Jepang dan Norwegia penggunaan alat ini mulai berkembang setelah perang dunia II. Penggunaan cahaya sebagai alat bantu penangkapan di Indonesia dewasa ini hampir merata di seluruh wilayah. Di Indonesia nelayan tradisional lebih banyak menggunakan lampu strongking dan petromaks dalam operasi penangkapan, sedangkan lampu listrik lebih sering digunakan oleh kapal-kapal penangkapan yang lebih modern. Pada usaha penangkapan cakalang di Indonesia bagian timur, cahaya digunakan untuk menangkap umpan hidup (life bait fish).
D.    Persyaratan Daerah Penangkapan Ikan Buatan dengan Alat bantu Cahaya                                              
Operasi penangkapan dengan menggunakan alat bantu  cahaya tidak dapat dilakukan pada setiap kondisi, ada beberapa persyaratan yang perlu diperhatikan untuk mendapatkan hasil tangkapan yang maksimal. Beberapa persyaratan dalam penangkapan untuk mendapatkan hasil tangkapan yang  maksimal dengan memperhatikan antara lain:
1.      Syarat Lingkungan
            Persyaratan utama dalam penggunaan cahaya lampu sebagai alat bantu penangkapan adalah kondisi lingkungan yang mendukung sehingga peran dan fungsi cahaya menjadi lebih efisien. Kondisi lingkungan yang baik adalah cahaya lampu yang digunakan pada malam yang gelap. Fase bulan menjadi faktor yang menentukan gelap dan terangnya bulan. Light fishing hanya akan efektif dilaksanakan pada bulan gelap, dengan demikian cahaya lampu tidak dapat dioperasikan pada siang hari. Pada saat bulan terang penggunaan cahaya sebagai alat bantu penangkapan menjadi sangat tidak  efektif. Akibat adanya cahaya lain yang turut mempengaruhi behavior dari ikan-ikan di perairan. Kondisi ini biasanya diantisipasi oleh nelayan dengan menggunakan cahaya yang lebih terang, namun hal ini hanya akan sedikit membantu dalam operasi penangkapan.
            Selain dari fase bulan keadaan keadaan tingkat kekeruhan dalam perairan juga akan mengurangi daya tembus cahaya di perairan pada akhirnya hal ini mempengaruhi efisiensi penggunaan cahaya. Dalam keadaan cuaca yang baik dan arus laut yang tidak terlalu kencang, operasi penangkapan dengan menggunakan lampu akan memberikan pengaruh positif terhadap hasil tangkapan. Arus yang terlampau kencang akan mempengaruhi posisi alat tangkap di dalam air.
2.      Syarat Penangkapan
Selain faktor-faktor lingkungan diatas, ada beberapa syarat lain yang menentukan keberhasilan suatu operasi penangkapan. Beberapa syarat yang perlu diperhatikan  antara lain :
a)      Cahaya yang akan digunakan harus tepat untuk jenis ikan yang akan ditangkap dengan mengetahui behavior dari ikan-ikan yang hendak ditangkap terhadap jenis cahaya. 
                                                                          i.      Cahaya yang digunakan juga harus mampu menarik ikan pada jarak yang jauh baik vertikal maupun horisontal, untuk syarat ini biasa digunakan cahaya berwarna biru atau hijau.
                                                                        ii.      Ikan-ikan diusahakan untuk berkumpul pada area penangkapan tertentu.
                                                                      iii.      Waktu yang tepat untuk menentukan mulai penangkapan terhadap ikan-ikan yang telah berkumpul, setelah ikan mulai berkumpul diusahakan ikan tetap tenang berada pada area penangkapan sampai batas waktu tertentu sebelum dilakukan penangkapan, untuk itu diusahakan agar ikan tidak melarikan diri atau menyebar.
3.      Syarat Biologi
Dalam hubungannya dengan keberhasilan operasi penangkapan dengan menggunakan cahaya, perlu kiranya diketahui kebiasaan dari ikan-ikan yang akan ditangkap. Salah satu kebiasan ikan yang perlu diperhatikan dalam penangkapan adalah ruaya vertikal harian ikan tersebut.  Berdasarkan ruaya vertikal hariannya, ikan dan hewan laut lainnya dapat dibagi atas 6 kelompok, yaitu :
1)      Jenis ikan pelagis yang muncul sedikit  diatas termoklin pada siang hari. Jenis ikan ini akan beruaya ke lapisan permukaan pada sore hari, sedangkan saat malam hari, akan menyebar pada lapisan antara permukaan dan termoklin. Kemudian pada pagi harinya ikan akan menghindar dari lapisan diatas termoklin tersebut
2)      Jenis ikan pelagis yang muncul dibawah termoklin pada waktu siang hari. Ikan ini beruaya melalui lapisan termoklin ke lapisan permukaan pada sore hari lalu menyebar pada lapisan antara permukaan dengan dasar perairan selama malam hari, dan sebagian besar dari ikan tersebut berada diatas termoklin. Pada waktu matahari terbit ikan akan turun  ke lapisan yang lebih dalam.
3)      Jenis ikan pelagis yang muncul dibawah termoklin selama waktu sore hari. Malam hari ikan tersebut akan menyebar antara lapisan termoklin dan dasar perairan, bahkan mungkin turun ke lapisan yang lebih dalam pada waktu terbit matahari.
4)      Jenis ikan dasar (demersal fish)  berada dekat dasar perairan pada waktu siang hari, beruaya dan menyebar di bawah termoklin, terkadang berada diatas termoklin pada sore hari kemudian turun ke dasar atau lapisan yang lebih dalam pada waktu pagi hari.
5)      Jenis-jenis ikan yang menyebar melalui kolom air selama siang hari, sedangkan pada  waktu malam ikan tersebut akan turun ke dasar perairan
6)      Jenis ikan pelagis maupun demersal yang tidak memiliki migrasi harian yang jelas.


































BAB III

PENUTUP

A.      Kesimpulan

      Dari makalah ini dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Alat bantu penangkapan cahaya lampu (Light Fishing) digunakan dalam upaya optimalisasi hasil tangkapan.
  2. Penggunaan light fishing sebagai pembentuk daerah penangkapan ikan buatan (Artificial fishing ground)


B.     Saran
         Dari makalah ini dapat disarankan sebagai berikut :
1.       Dalam rangka mewujudkan perikanan tangkap yang bertanggung jawab  (Sustainable Fisheries Cupture) maka eksploitasi sumberdaya ikan harus dapat dilakukan secara bertanggung jawab (responsible Fisheries).
2.    Untuk mewujudkan perikanan tangkap yang bertanggung jawab (Sustainable Fisheries Cupture) maka perlu kiranya membuat kriteria keramahan dari cahaya lampu (Light Fishing) sebagai Alat bantu penangkapan.
























DAFTAR PUSTAKA


Baskoro, SM,Suherman, A.2007. Teknologi Penangkapan Ikan Dengan Cahaya. Badan    Penerbit UNDIP-Semarang. Bogor.
Ben-yami,1987.                  Fishing With Light. Published by Arrangement With The Agriculture Organisation of The United Nation by Fishing News Books Ltd.Farham,Surrey.England

Nikonorov, I.V. 1975. Interaction of Fishing Gear With Fish Aggregations. Keter Publishing House Jerisalem Ltd. Israel Program From Scientific Translations, Jerusalem

Sulaiman.2006. Pendekatan Akustik dalam Studi Tingkah Laku Ikan pada proses Penangkapan dengan Alat Bantu Cahaya.(Tidak di Publikasikan,Thesis). Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor
Sudirman, 2003. Analisis Tingkah Laku Ikan untuk Mewujudkan teknologi Ramah Lingkungan Dalam Proses Penangkapan pada bagan Rambo (Tidak di Publikasikan.Disertasi) Program Pasca sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor
Yusfiandayani, R. 2004. Studi tentang Mekanisme Berkumpulnya Ikan Pelagis Kecil di Sekitar Rumpon dan Pengembagan Perikanan di Perairan Provinsi Banten.   

Sumber :  http://ocean.iuplog.com  Rumponisasi, Konflik Nelayan dan Kelestarian Sumberdaya Ikan. Suhana, Peneliti Pada Pusat Kajian Sumberdaya Pesisi
www.google.com./penangkapanikanmengunakancahaya


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar